cara islam mengelola cinta


Cinta yang mengundang murka Allah adalah cinta yang dapat menjauhkan kita pada-Nya. Cinta yang menuruti hawa nafsu.

“Cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi. Goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semua nyata” . Itulah cinta, rangkaian lima huruf ini kadang penuh misteri, cukup rumit menerjemahkannya akan tetapi cinta adalah nyata sehingga bisa dirasakan.

Semua manusia bisa merasakan getaran cinta itu, dengan kadar yang berbeda-beda dan bentuk yang beragam. “Jangan main-main dengan cinta!” nasihat seorang bijak. Yups…karena cinta, kita bisa meraih ridla Allah dan gara-gara cinta pula kita bisa menuai murka Allah SWT.

Mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan membingkai cinta manusia dalam kerangka Mahabbatullah adalah salah satu kunci menggapai ridla Allah SWT. “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31). Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa dua orang yang saling mencinta dan berpisah semata karena Allah akan mendapat perlakuan khusus oleh Allah kelak hari kiamat akan mendapat naungan dimana pada saat itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (HR. Bukhari-Muslim). Bukti cinta kita pada Allah adalah dengan mengikuti syari’ah-Nya. Dengan pelaksanaan inilah kita bisa mendapat rahmat dan maghfirah-Nya.

Sebaliknya cinta yang mengundang murka Allah adalah cinta yang dapat menjauhkan kita pada-Nya. Cinta yang menuruti hawa nafsu. Misalnya cinta dunia berlebihan, cinta yang dilandasi nafsu belaka kepada lawan jenis tanpa ikatan perkawinan dsb. “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka kehebatan Islam …(HR. Turmudzi).

Oleh karena itu, kita mesti tahu apa itu cinta. Selain kata cinta ada dua kata lain yang artinya hampir mendekati, tapi berbeda makna, yaitu sayang dan suka. Cinta, sayang dan suka kadangkala dimaknai dengan satu arti. Meskipun memiliki makna yang berbeda.

Kita semuanya tentu pernah mencintai, menyayangi atau menyukai seseorang atau barang tertentu. Bila kita pernah melakukan ketiga-tinganya, kita pasti merasakan bahwa ternyata ketiganya berbeda. Suka, cenderung kepada keinginan seseorang untuk segera memiliki, di dalamnya ada ego. Sehingga orang yang menyukai sesuatu biasanya menunjukkan sifat egoismenya, dalam arti ingin menyenangkan dirinya saja, tanpa menyenangkan orang yang disukainya. Sehingga perasaan hati terdalamnya tidak sampai menyatu kepada orang yang disukainya.

Sayang, adalah boleh dikatakan kadarnya berada di atas suka. Jika kita sayang pada seseorang atau sesuatu, maka kita sedikit mengorbankan diri kita demi menyenangkan orang yang disayangi. Ia tiak egois, tapi luapan perasaannya dituangkan untuk menyenangkan orang yang disayangi. Orang yang sayang akan hadir saat orang yang disayangi menginginkannya.

Sedangkan, cinta adalah tingkatan yang paling tinggi. Tingkat pengorbanan cinta lebih besar dibandingkan dengan sayang. Orang yang mencintai, akan rela mengorbankan jiwanya demi menyenangkan orang yang dicintainya. Ia ingin sekali orang yang dicintainya selalu dekat berada disisinya, apapun keadaannya dan kapanpun waktunya. Sesuatu yang dicintainya dianggapnya sebagai sebuah anugerah yang diberikan Allah kepadanya. Maka, dalam keadaan duka maupun suka, ia tetap loyal kepada orang yang dicintainya.

Sebagai seorang muslim, kita harus pandai-pandai mengelola rasa suka, sayang dan cinta kita. Apalagi, bagi seorang remaja, perasaan terhadap lawan jenis tersebut biasanya cukup besat dan menggebu. Jika seseorang pemuda tidak pandai-pandai mengelola maka bisa terjatuh pada hukum haram.

Cinta adalah perasaan hati yang kehadirannya tidak bisa ditolak. Bagi pemuda yang terjangkiti ’virus’ merah jambu itu perlu memperhatikan rambu-rambu. Untuk mengekspresikan perasaan itu, bagi seorang pemuda perlu memahami skala prioritas terlebih dahulu. Jangan sampai karena jatuh cinta, semua permasalahan terabaikan sama sekali. Inilah cinta buta, cinta yang didasari hawa nafsu.

Islam sangat menjaga kehormatan manusia. Salah satu caranya dengan membuat aturan agar perasaan cinta terhadap lawan jenis berjalan tidak liar. Rasulullah SAW pernah mengingatkan jika dua orang berlainan jenis menyepi, maka yang ketiga adalah syetan.

Mengapa Islam melarang dua orang berlainan jenis menyepi, dan menyentuh lawan jenis? Hal inilah yang menunjukkan bahwa Islam memulyakan manusia. Sebab, orang yang melakukan dua perbuatan tadi sebelum ada ikatan perkawinan akan bisa menghantarkan pada perbuatan yang keji. Jika sudah jatuh pada perbuatan keji, maka Allah akan mencabut rasa cinta dan sayangnya pada orang tersebut. Maka, cinta yang diridlai Allah, adalah cinta yang terbingkai dalam ikatan perkawinan.

Makanya, pemuda yang sudah siap, dianjurkan untuk segera menikah. Cinta orang yang sudah menikah itu lebih mentrentramkan daripada sebelum menikah. Cinta yang dinaungi pernikahan katanya justru menjadi motor yang mesinnya sangat kuat dan terarah, tidak berkeliaran liar. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang telah mampu untuk kawin maka hendaklah ia kawin, karena kawin itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiap yang belum mampu nikah, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-Muslim). Cinta yang terbingkai dalam ikatan perkawinan adalah cinta yang dapat membawa manfaat, relatif terhindar dari dosa. Bagi remaja putri juga menjadikan yang bersangkutan memelihari diri, menimbulkan ketenangan, dan persahabatan sejati. Rajutan cinta yang dikemas dalam ikatan perkawinan adalah rajutan yang paling sempurna dan indah. Di situlah cinta sejati kita temukan. Jangan coba katakan cinta sejati jika sebelum menikah..!

Keindahan cinta perkawinan yang dilandasi karena Allah inilah yang disebut cinta sejati. Sang lelaki laksana benteng bagi wanita yang bisa memberi rasa aman, cinta-kasih sayang, ketenangan dan ketentraman. Dan sang wanita bagai lahan subur yang sejuk dan rindang yang terhiasi dengan bunga-bunga cinta, tempat si laki-laki mencari ketenangan. Ia juga bagaikan matahari yang menyinari, merpati yang mengepakkan sayap, bunga yang harum semerbak dan tempat berteduh yang menyejukkan.

Cinta yang membawa kepada ridla Allah adalah cinta ilahi, meletakkan cinta pada Allah di atas segala perasaan cinta yang menguasai hatinya, dan tentunya yang terikat dalam perkawinan. Di dalamnya kita bisa mereguk nikmatnya cinta sejai yakni cinta yang berdasarkan ilahi. Itulah cara mengelolah cinta yang dapat mendamaikan hati. Wallahu ‘alam bisshowab.

Oleh: Kholili Hasib

pengaruh lingkungan pada pendidikan anak


Keshalihan kedua orang tua memberi pengaruh kepada anak-anaknya. Bukti pengaruh ini bisa dilihat dari kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa Alaihissalam menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah Azza wa Jalla berfirman : “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. Dalam menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih,” Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.

sunnah tarkiyah


Satu hal yang kerap kali luput dari pemahaman, seringkali kita mempersepsikan bahwa sunah hanya berkaitan dengan amal rosululloh Saw saja, baik berupa perbuatan (sunah fi’liyah), ucapan (sunah qouliyah) ataupun persetujuan beliau terhadap perbuatan atau ucapan para sahabat (sunah takririyah), dan menganggap bahwa sesuatu yang ditinggalkan oleh rosululloh bukan bagian dari sunah, oleh sebab itu istilah sunah tarkiyah menjadi satu hal yang seakan-akan asing didengar oleh sebagian para pencari ilmu terlebih lagi orang-orang awam yang tidak secara khusus mempelajari ilmu-ilmu keislaman.

Di dalam permasalahan ini imam Syafi’I pernah berkata: “ketika rosululloh Saw dan juga orang-orang setelahnya tidak mengambil zakat dari hal itu, maka kamipun meninggalkannya dengan tujuan untuk mengikuti beliau di dalam meninggalnnya”[1].

Adapun imam ibnu Qoyim maka beliau pernah berkata di dalam kitabnya ‘ilamul muwaqi’in: “ penukilan syariat dari nabi saw secara permulaan ada empat jenis: yang pertama adalah nukilan yang berupa ucapan-ucapan rosululloh, yang kedua perbuatan-perbuatannya, yang ketiga takrirnya, dan yang keempat adalah sesuatu yang mungkin saja dapat dilakukan olehnya tetapi ia tidak melakukannya”.

Kemudian beliau melanjutkan perkataannya: “adapun penukilan para ulama terhadap segala sesuatu yang ditinggalkan olehnya memiliki dua bentuk yang keduanya merupakan sunah. Yang pertama, para ulama menjelaskan secara jelas bahwa rosululloh Saw meninggalkan perkara tersebut dan tidak pernah melakukannya. Seperti ucapan seorang rowi yang menceritakan keadaan para pejuang uhud  yang meraih kesyahidan di medan perang : “rosululloh saw tidak memandikan mereka dan tidak pula menyolatkannya”. Atau seperti perkataan seorang rowi yang menceritakan keadaan shalat ‘id dimasa rosululloh Saw : “ bahwa pelaksanaan shalat ‘id dimasa rosululloh Saw tidak diawali oleh azan dan ikomat”. Contoh yang lainnya seperti perkataan seorang rowi yang menceritakan bahwa rosululloh saw ketika menjamak antara dua shalat maka beliau tidak mengucapkan tasbih di antara kedua shalat tersebut atau di akhir salah satu dari kedunya”.

Adapun bentuk yang kedua yaitu sesuatu yang tidak dinukil oleh seorang ulama sedikitpun yang seandainya hal itu pernah dilakukan oleh rosululloh Saw pastilah mereka atau salah seorang dari mereka menukilnya. Tidak adanya seorang pun dari para ulama yang menukil hal tersebut menunjukan bahwa rosululloh Saw tidak pernah melakukannya sama sekali, seperti melafalkan niat ketika hendak memulai shalat, atau berdoa dengan menghadap kepada makmum setelah selesai mengerjakan sholat berjamaah dengan diamini oleh makmum yang  hadir, baik ketika shalat asar ataupun subuh atau shalat-shalat yang lainnya’[2].

‘alamah ibn Baz pernah berkata di dalam salah satu fatwanya ketika berbicara tentang mengangkat tangan ketika berdoa: “ tidak boleh mengangkat tangan pada keadaan-keadan yang mana rosululloh Saw tidak pernah mengangkat tangannya ketika berdoa, karena semua yang dilakukan oleh rosululloh Saw adalah sunah, maka segala sesuatu yang ditinggalkan oleh rosululloh Saw pun adalah sunah”[3].

Adapun syaikh ibn Usaimin berkata: “ sebagaimana sunah itu terdapat di dalam perbuatan rosululloh Saw, maka iapun terdapat di dalam segala sesuatu yang ditinggalkan oleh rosululloh Saw. Apabila ada sesuatu hal yang dimungkinkan dapat dilakukan di zaman rosululloh Saw akan tetapi beliau tidak melakukannya, maka hal ini mengindikasikan bahwa hal tersebut merupakan sunah tarkiyah”[4].

Genggamlah ia dengan erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu


Siapakah yang lebih mencintai kita dari Alloh dan rasoulnya, siapakah yang lebih menginginkan kebaikan untuk kita dan terasa berat penderitaan kita baginya[1], demi Alloh hanyalah dia rosululloh Saw tercinta, tidak ada yang ia harapkan kecuali kebaikan bagi umatnya dan tidak ada yang ia hiraukan kecuali keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Dikala malaikat maut menjemputnya bukan harta atau keluarga yang membuat gundah hati dan fikirannya, tetapi kita, manusia-manusia yang tidak pernah dijumpainya. “ jagalah shalat, jagalah shalat “, itulah rintihnya[2].

Lalu apakah gerangan yang ia risaukan dari diri kita. Apakah kekurangan harta,atau  pula derita dunia, bukan, bukan itu, akan tetapi ketersesatan dan fitnah di dalam agama yang ia risaukan dan iapun memberikan solusinya bagi kita, sehingga pada suatu saat ia pernah bersabda: “ aku tinggalkan untuk kalian dua perkara apabila kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, kitab Alloh dan sunah rosulnya”[3].

Inilah Irbad ibn sariyah salah seorang sahabat yang menceritakan pengalamannya bersama rosululloh Saw kepada kita, ia berkata: “ pada suatu hari rasululloh Saw shalat mengimami kami setelah itu beliau menghadap kepada kami dan menasihati kami dengan sebuah nasihat yang membuat air mata kami bercucuran dan hati kami bergetar, kemudian salah seorang dari kami berkata: “wahai rosululloh, seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ?, kemudian beliaupun bersabda: “aku wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Alloh, patuh dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang habsyah, maka siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku niscaya ia akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak, oleh sebab itu hendaklah ia berpegang teguh dengan sunahku dan sunah para khulafa rosyidin, genggamlah ia dengan erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu, dan hendaklah kalian berhati-hati dengan perkara-perkara yang diada-adakan, karena hal itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”[4].

Tidak ada yang ia inginkan dari kita sebagai umatnya kecuali agar kita selalu berpegang dengan sunahnya yang disucikan, bukan untuk kebahagiaannya, bukan pula untuk keselamatannya, tidak sepeserpun uang yang ia minta dari kita karena harta dunia terlalu remeh baginya, yang ia inginkan hanyalah keselamatan dan kebahagian kita semua sebagai umatnya, lalu masihkah kita ragu untuk mengikuti jejaknya ?

Memahami sunah


Sunah satu istilah yang seharunya tidak asing lagi bagi setiap muslim dan itu idealnya, akan tetapi realitas disekitar kita berkata lain, sunah menjadi satu hal yang asing didengar, kalaupun tidak, sunah hanya dipahami dari satu pengertiannya saja yang biasanya berkaitan dengan ritual peribadatan fiqhiyah sebagai lawan dari kata wajib, yaitu satu hal yang apabila dilakukan maka akan mendapat pahala dan apa bila ditinggalkan tidak mendapat dosa.

Tidak salah memang, hanya saja ini mengindikasikan betapa minimnya pemahaman umat terhadap pengertian sunah yang begitu luas, akibatnya seringkali terjadi kesalahfahaman ketika seseorang mendengar kata-kata sunah. Sunah yang tadinya dimaksudkan untuk menunjukan sesuatu yang datang dari rasul dan hukumnya wajib, difahami dan diinterpretasikan dengan pemahaman yang lain sebagai sesuatu yang apabila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa, akibatnya iapun meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan atas dirinya, dan ini satu hal yang berbahaya dan tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Sunah dan berbagai macam pengertiannya

Sunah secara etimologi memiliki arti perjalanan atau torikoh, yang baik ataupun yang buruk, hal ini sebagaimana yang diterangkan di dalam sebuah hadis : “barang siapa yang melakukan sunah kebaikan maka baginya pahala dan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang melakukan sunah keburukan, maka atasnya dosa dan dosa-dosa orang-orang yang mengkutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka”[1].  Adapun dalam pengertian terminology sunah memiliki pengertian yang disesuaikan dengan objek kajian dari setiap disiplin ilmu syari’ah yang mengkajinya, maka para ulama hadis mengatakan bahwa sunah berarti segala sesuatu yang disandarkan kepada rosululloh Saw baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, dan sifat, baik yang berupa akhlakiyah ataupun kholkiyah (penciptaan atau sifat fisik)[2].

Adapun para ulama fikih mengartiakan sunah dengan pengertian yang berbeda dengan pengertian yang disebutkan oleh para ulama hadis, mereka mengatakan bahwa sunah adalah: “ sesuatu yang apabila dikerjakan dengan tujuan untuk menjalankan perintah Alloh akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa”. Atau : “ sesuatu yang Alloh perintahkan dengan sebuah perintah yang tidak mengandung kewajiban”. Pengertian sunah semacam ini sering kali kita kenal dengan sebutan mustahab atau mandub[3].

Selain itu adapula pengertian sunah yang dikemukakan oleh para ulama usul fikih, mereka mengatakan bahwa sunah adalah: “segala sesuatu yang disandarkan kepada rosululloh Saw selain al-quran yang berkenaan dengan pemasalahan hukum di dalam syariat saja”[4]. Hal ini dikarenakan tataran pembahasan disiplin ilmu tersebut yang berkutat di dalam masalah pengistimbatan hukum-hukum yang bersifat praktis.

Sedangkan para ulama akidah memberikan pengertian sunah sebagai segala sesuatu yang bersebrangan dengan bid’ah. Sehingga seringkali kita mendengar sebuah ucapan “sifulan adalah ahlu sunnah” apabila amal perbuatannya sesuai dengan apa yang diontohkan dan diperintahkan oleh rosululloh Saw, dan “sifulan adalah seorang ahli bid’ah” apabila kita dapati amal perbuatannya tidak sesuai dengan tuntunan rosululloh Saw sebagaimana halnya orang-orang khawarij dan mu’tazilah[5].

Bahkan terkadang sunahpun dimutlakan untuk sesuatu yang dilakukan oleh para sahabat baik untuk sesuatu yang tedapat dalilnya di dalam al-quran dan sunah atau merupakan hasil ijtihad mereka di dalam menggali hukum-hukum yang terdapat di dalam al-quran dan sunah tersebut, hal ini sebagaimana yang tertera di dalam sebuah hadis rosululloh Saw : “berpegang teguhlah kalian kepada sunahku dan sunah para kholifah yang diberi petunjuk sepeninggalku…..[6]”.

Adanya perbedaan dalam pendefinisian ini tidak berarti bahwa para ulama yang berbeda keahlian di dalam bidang ilmu tersebut menganggap bahwa definisinyalah yang paling benar dan menyalahkan definisi ulama  yang lain, perbedaan di dalam pendefinisian tersebut hanyalah sebuah tuntutan dalam memberikan sebuah nama untuk gambaran tentang sesuatu. Oleh sebab itu satu hal yang harus kita fahami di sini bahwa seluruh ulama ahli sunah wal jama’ah bersepakat bahwa kalimat sunah apa bila dimutlakan di dalam peristilahan syari’at maka ia memiliki pengertian segala sesuatu yang bertentangan dengan bid’ah, baik itu berupa keyakinan, ucapan, perbuatan atau persetujuan rosululloh Saw. Oleh sebab itu sunah dalam tataran pengertian seperti ini bisa saja memilki hukum wajib, muakadah, atau mandub[7]. Dan inilah pengertian sunah yang dimaksudkan dalam pembahasan buku ini.


menghidupkan sunah membendung bid’ah


segala puji hanya bagi Alloh, kita memuji, memohon pertolongan, dan memohon ampun hanya kepadaNya. Kita berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku barsaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah secara hak kecuali Alloh, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Alloh[1].

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari satu jiwa, kemudian Ia menciptakan istrinya dari padanya, dan dari keduanya Alloh mengembangbaikan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak. Dan bertakwalah kepada Alloh yang dengan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Alloh selalu menjaga dan mengawasimu[2].

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali kalian berada dalam keadaan muslim[3].

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang baik maka Alloh akan memperbaiki amalan-amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barang siapa yang mentaati Alloh dan rosulNya maka ia telah memperolah kemenangan yang sangat besar[4].

Di antara kenikmatan yang paling agung yang telah Alloh karuniakan adalah nikmat berjalan di atas sunah rosululloh Saw, inilah satu nikmat yang tiada  taranya, sebuah kenikmatan yang sanggup mengalahkan seluruh kenikmatan dunia dan seluruh isinya, yang dengannya seseorang bisa meregup segarnya telaga rosululloh Saw terkasih, dan dengan kenikmatan itu juga seseorang dapat memasuki sebuah fase kehidupan dimana kenikmatan menjadi satu hal yang akan dia rasakan dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan teramat panjang dan tidak berujung pangkal, surga Alloh swt.

Tidak ada kehidupan yang mulia kecuali dengan mengikuti sunah, karena hanya dengan sunahlah kita sanggup memahami substansi kitab suci Al-quran yang Alloh turunkan sebagai petunjuk kehidupan. Dengan sunah pula kita dapat mengetahui berbagai macam hukum dan hikmah-hikmah kehidupan yang tidak kita dapatkan di dalam al-quran[5], dan dengan sunah pula kita dapat mengetahui berbagai macam rahasia keberhasilan seorang nabi terakhir yang telah meraih sukses besar di dalam menjalani kehidupannya, tidak sekedar kehidupan dunia tetapi juga kehidupan akhirat.

Tanpa sunah seluruh manusia berada di dalam kesesatan, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk rosululloh Saw dan seburuk-buruk perkara adalah segala hal yang bertentangan dengan sunah[6]. Sunah menunjukan jalan kesurga sedangkan bid’ah merupakan salah satu jalan pintas menuju neraka. Maka siapakah yang lebih berbahagia dari mereka  yang senan tiasa beristikomah berjalan di atas sunah mustofa Saw ?.

Islam itu bermula asing kata rosululloh, dan ia akan kembali menjadi asing lanjutnya, “akan tetapi berbahagialah bagi mereka yang terasing, yaitu mereka yang menghidupkan sunahku ketika orang lain membunuh dan meninggalkannya”[7].

Menghidupkan sunah berarti meraih kebahagiaan sekaligus bukti cinta kepada dia yang telah menunjukan jalan kebahagiaan, rosululloh Saw, dan barang siapa mencintai rosululloh berarti dia telah meraih cinta Ilahi sebagai cinta yang Paling agung dan paling tinggi karena Ia berfirman di dalam kitabNya : “katakanlah wahai Muhammad apabila kalian mencintai Alloh ikutilah aku,  maka Alloh pun akan mencintai kalian”[8]. Dan ketika Alloh telah mencintai hambaNya, maka Ia akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat, Ia akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar dan Ia akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah[9]. Subhanalloh.

Inilah jalan panjang sunah yang telah di lalui oleh para ulama ahlu sunah wal jama’ah sejak dulu, para sahabat dan mereka yang  menapaki jalannya.  Dan inilah jalan yang akan selalu ditempuh oleh setiap mereka yang berpegang teguh pada manhaj yang lurus disetiap zaman dan tempat sampai mereka bertemu dengan Alloh pada suatu hari yang tidak bermanfaat baginya harta dan keturunan kecuali mereka yang datang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.

Inilah jalan sunah itu, yang dengannya para pendahulu umat ini meraih kejayaan, membangun peradaban yang berkeimanan, menegakan keadilan dan kesejahteraan di sepertiga dunia, sehingga mereka meraih sebuah gelar yang tiada bandingannya, “kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”[10].

Untuk kita renungkan

Hari-hari itupun berlalu dengan cepatnya, tahun berganti tahun dan kurunpun berganti kurun, para generasi robani itupun satu persatu menghadap kehadirat Alloh Swt dengan segudang ilmu sunah yang mereka terima dari para pendahulunya, kemudian datanglah generasi setelah mereka, generasi yang mayoritasnya lebih menyukai kenikamtan dunia daripada kenikmatan akhirat, generasi yang lebih mencintai kebodohan dan tidak bersabar ketika mereka duduk satu  jam saja bersama ilmu, walaupun para ulama ahlu sunah akan senantiasa ada di setiap zaman[11],  akan tetapi jumlah mereka tidaklah sebanyak jumlah orang  yang tidak memiliki kepedulian terhadap warisan sunah yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu mereka. Sunahpun menjadi satu hal yang tidak dipedulikan, ia kembali menjadi asing sebagaimana sabda rosululloh terdahulu.

Lebih dari itu, merekapun menciptakan tatacara ibadah yang tidak pernah di dapatkan di dalam sunah rosululloh Saw, kemudian mereka menganggap baik akan hal itu, bahkan mereka meyakini bahwa bid’ah-bid’ah cipataan mereka merupakan bagian dari sunah rosululloh Saw  bahkan lebih baik dari sunah rosululloh Saw, sehingga urusanpun menjadi tersamar dan semakin tidak jelas, terlabih lagi setelah muncul kalangan di antara mereka yang menyebarkan isu dan memutarbalikan fakta sehingga mereka yang memiliki komitmen untuk berpegang teguh dengan sunah dianggap sebagai ahli bid’ah dan ahli bid’ah pun dianggap sebagai ahli sunah. Innalillah.

Perang melawan ahli sunah pun semakin gencar mereka gaungkan. Fitnah, cacian, deraan, siksaan bahkan pembunuhan tidak segan-segan mereka lakukan[12]. Orang-orang awam yang mulai meninggalkan para ulamapun tak luput dari penipuan yang mereka lakukan, sehingga mereka tak sadarkan diri terus terenggut hanyut dalam derasnya aliran kebid’ahan karena kebodohan mereka akan sunah rosululloh Saw.

Semakin mereka hanyut di dalam lautan bid’ah, maka merekapun semakin jauh terseret meninggalkan sunah; karena sebanyak apa bid’ah dilakukan maka sebanyak itu pula sunah akan ditinggalkan[13]. Andaikata mereka mengetahui konsekuensi dari kebid’han yang mereka lakukan niscaya mereka akan menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan.

Namun ahlu sunah tidak akan tinggal diam dalam ketidakberdayaan, mereka akan selalu ada membela dan memperjuangkan tegaknya sunah rosululloh Saw, karena inilah janji Alloh dan rosulNya : “akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang tegak memperjuangkan kebenaran, orang-orang yang mencela mereka tidak akan pernah sanggup memadaratkan mereka sampai datangnya urusan Alloh kepada mereka”[14].

Menghidupkan sunah yang ditinggalkan

Menelaah dan menelusuri jejak sunah yang diwariskan oleh para pendahulu ternyata memilki kenikmatan tersendiri yang tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang tidak memiliki giroh di dalam mempelajarinya. Inilah satu kenikamatan yang tidak ada bandingannya, kenikmatan yang telah dirasakan   oleh para ulama sejak ribuan tahun silam. kenikmatan mempelajari sunah, menghidupkannya dan menyebarkannya menyebabkan mereka menghabiskan sebagian besar dari usia dan kehidupan mereka untuk berkhidmat bagi warisan yang tidak ternilai ini dengan sebuah harapan agar warisan tersebut dapat dirasakan oleh generasi yang hidup setelah mereka.

Namun seiring berjalannya waktu dan menyebarnya kebid’ahan sebagian warisan suci itupun terkubur dalam bongkahan debu-debu zaman, ditinggalkan, bahkan tidak dipedulikan, kecuali oleh mereka yang dikehendaki oleh Alloh untuk memperoleh kebaikan. Inilah satu hal yang mendorong penulisan buku sederhana ini, dengan harapan agar Alloh membimbing kita untuk senantiasa tegak di atas sunah, menghidupkannya, membelanya, dan memperjuangkannya sehingga Alloh mengaruniakan kemuliaan kepada kita untuk menghembuskan nafas terakhir di jalannya. Amin

maka kemanakah kamu akan pergi


“hidup hanya sementara”, sebuah ungkapan yang menggugah kesadaran setiap orang yang masih memiliki keimanan akan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupan, sebuah ungkapan yang menyadarkan kita bahwa kita adalah makhluk sementara yang suatu saat akan menghadap sang pencipta demi mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan kita selama kita hidup di alam belantara rimba kehidupan ini.

tidak ada yang abadi dalam kehidupan yang fana ini, kita tak ubahnya seperti seorang musafir yang tengah berjalan menyusuri liku kehidupan untuk menuju sebuah tujuan yang pasti dan niscaya, kita tak ubahnya seperti seorang pengembara yang berjalan dengan terpopoh-popoh untuk meraih sebuah cita-cita.

dunia ini bukan rumah kita, jagat raya ini bukan tempat tinggal kita yang sebenarnya, kendaraan, rumah, harta kekayaan hanyalah fata morgana yang suatu saat akan kita tinggalkan.

lalu kemakah kita akan pergi ? hanya satu jawaban yang bisa kita ucapkan “kita akan pergi kepadaNya”.